PROFIL DAN SEJARAH SINGKAT:
Lahir : Blora 31 Maret 1921
Tanda Jasa : Bintang Sakti
Sikap mementingkan diri sendiri tidak ada dalam pribadinya, tetapi lebih dapat memilih dengan tepat mana yang harus didahulukan untuk perjuangan nasional. Sebagai bangsa Indonesia ia telah memperlihatkan kesadaran nasional yang cukup tinggi, telah dibuktikan dengan keinginannya untuk kembali ke tanah air yang waktu itu dalam kondisi "perang" meskipun di Australia sebagai flight radio operator dari Netherland Eart Ladius Air Force (NELAP) dan mempunyai masa depan lebih baik.
Karena keinsyafan Adisumarmo kembali ke Indonesia dan menggabungkan diri dalam badan perjuangan yang ada pada saat itu. Sesuai dengan keahliannya akhirnya masuk ke dalam Angkatan Udara dengan pangkat Opsir Muda Udara I.
Adisumarmo adalah salah satu perintis dan pendiri sekolah Radio Telegrafis Udara yang pertama kali dilingkungan Angkatan Udara, dan merupakan embrio dari Sekolah Radio Oedara di kemudian hari.
Karier di Angkatan Udara begitu singkat, Adisoemarmo mendapat perintah dari Kepala Staf Angkatan Udara untuk menjadi Radio Operator pesawat VT-CLA yang sedang dicarter pemerintah Indonesia.
Ketika menjalankan misi kemanusiaan membawa bantuan obat-obatan dari pemerintah Malaya untuk Palang Merah Indonesia, pada 29 Juli 1947 pesawat Dakota VT-CLA akan mendarat di Pangkalan Udara Maguwo ditembak jatuh oleh pesawat Kitty Hawk Belanda. Adi Soemarmo gugur dalam peristiwa tersebut, bersama dua penerbang muda lainnya Marsekal Muda TNI Agustinus Adisutjipto dan Marsekal Muda TNI Abdulrahman Saleh .
- Adisoemarmo Wirjoekoesoemo (Lahir Blora 31 Maret 1921) diabadikan sebagai nama Lanud di Panasan, Solo
- Agustinus Adisutjipto (Lahir Magelang 4 Juni 1916) diabadikan sebagai nama Lanud di Maguwo, Jogja
- Abdulrachman Saleh (Lahir Jakarta 1 Juli 1909) diabadikan sebagai nama Lanud di Malang.